Padahal yang dimaksud adalah bagaimana sih letak camera yang bagus itu? Lalu, kriteria apa yang dipakai untuk menyatakan bagus itu? Apakah semakin banyak camera semakin bagus? Pertanyaan di atas sepantasnya muncul dari user (pemakai) sendiri, bukan dari vendor (penjual). Apa sebab? Sebab user lah yang lebih mengetahui akan kebutuhannya ketimbang vendor. Lalu apa sajakah yang perlu diperhatikan sehubungan dengan adanya rencana pemasangan camera di tempat kita? Nah, pada posting kali ini, kami akan mencoba berimprovisasi dengan berandai-andai menjadi user CCTV. Nanti kami akan mencoba berperan sebagai user (pemakai) ketimbang sebagai vendor (penjual). Apakah kira-kira ada titik temu antara keduanya? Samakah persepsi user dengan vendor terhadap aplikasi yang diinginkan?
Baiklah, dari mana kita mulai? O, ya..masih ingat sketsa rumah pada bahasan tentang Mengenal Istilah Alarm? Jika lupa, kami akan men-draft-nya kembali di sini, cuma kali ini kita akan ambil sebagai contoh dari proyek CCTV di rumah tinggal.
Setelah anda perhatikan, ternyata kami hanya meminta agar vendor memasang camera di 4 titik saja. Apakah itu cukup? Tentu saja jawabannya relatif. Cuma, kami mengatakan cukup dengan alasan di bawah ini:

Camera 1 - Carport
Area Carport bisa dikatakan sebagai primadona-nya instalasi CCTV di rumah tinggal. Melalui camera ini, user bisa mengamati dan merekam setiap aktivitas keluar masuk, apakah tamu (baik diundang maupun tidak), anggota keluarga, bahkan hingga debt collector! Untuk area ini sebaiknya dipilih camera dengan lensa yang varifocal, sehingga sudut pandangnya bisa  disesuaikan dengan keinginan.

Camera 2 - Ruang Keluarga
Lha, kok di sini? Alasan kami memilih lokasi ini hanya disebabkan ruangan inilah yang sebenarnya merupakan jantung-nya rumah tinggal. Suasana comfortable bisa dirasakan di sini. Berkumpulnya anggota keluarga di malam hari merupakan momentum yang paling indah. Ini bisa menjadi "obat penawar rindu" tatkala anda sedang berada jauh di luar kota atau bahkan di luar negeri. Aplikasi Access DVR via Internet, baik melalui laptop ataupun gadget akan sangat terasa sekali manfaatnya. Melihat si kecil dan yang lainnya sedang makan bersama ibunya, tentu saja bisa menjadi obat kangen selama anda berada jauh dari mereka, bukan? Inilah alasan kuat kami, mengapa kami memilih lokasi ini untuk dipasang.

Camera 3 - Office
Jika anda atau anggota keluarga menjalankan usaha kecil-kecilan di rumah, maka lokasi ini layak diberi camera pengawasan. Hanya sekadar "memata-matai" karyawan atau staf yang nakal saja, rasanya cukup. Selain itu berguna juga untuk mengamati siapa saja tamu atau client yang datang dan pergi. 

Camera 4 - Halaman Belakang / Playground
"Lho, ke mana si kecil? Harusnyakan jam segini dia udah pulang dari sekolah? Wo, rupanya dia sedang bermain dengan anak tetangga di halaman belakang sambil menanti buka puasa. Si Teteh dan ibunya juga ada, tuh!". Pertanyaan di atas seringkali meluncur secara alamiah. Oleh sebab itu, lokasi ini kami pilih untuk dipasangi camera. Kami hanya sekadar ingin mengetahui apakah si kecil aman atau tidak.
Cukup? Ya, rasanya cukup! Inilah yang kami maksud dengan penempatan camera CCTV yang bagus itu. Sebagai sample pertama, kami mengambil contoh aplikasi di rumah tinggal. Tentu saja anda boleh tidak sependapat dengan kami, karena soal camera CCTV ini memang subjektif. Artinya, apa yang menurut kami bagus, belum tentu menurut vendor demikian. Boleh jadi dia memiliki suggest yang lebih baik daripada kami.
Pada posting berikutnya kami akan mengambil sample titik camera CCTV yang bagus untuk di pabrik. Bagaimanakah deployment (penyebaran) titik camera yang disebut bagus itu? Stay Tune

 About CCTV Cameras Deployment ( for Factory Plan)

Kendati bukan pemilik pabrik, namun kami ingin mengemukakan seputar  sebaran titik camera yang baik untuk lokasi pabrik. Memang, ukuran baik tidaknya titik camera adalah relatif, artinya tergantung pada siapa yang melihat dan memanfaatkan sistem ini. Sepanjang pengamatan kami, untuk pabrik sekurang-kurangnya ada 3 (tiga) pihak yang berkepentingan dengan sistem camera CCTV ini, yaitu:
1. Pemiliknya sendiri (Owner).
2. Staf Personalia (HRD).
3. Bagian Keamanan (Security). 

 Owner berkeinginan melihat aktivitas keseharian pabrik guna memastikan bahwa semuanya berjalan dengan baik. Terlebih lagi saat dia sedang berada di luar kota (luar negeri), maka tidak dipungkiri bahwa keinginan untuk sekadar melihat tentunya ada. Demikian pula dengan Staf HRD yang sering dipusingkan oleh ulah sebagian karyawan yang suka titip-menitip absen. Dengan penempatan camera yang tepat, maka hasil rekaman karyawan nakal tadi bisa dijadikan barang bukti sebelum management mengeluarkan SP ataupun PHK terhadapnya. Namun, tujuan terpentingnya adalah pencegahan (preventif) terhadap kasus serupa. Di sinilah diperlukan letak camera yang tepat.
Bagaimana halnya dengan Satpam (Security)? Hal ini tampaknya masih menjadi perdebatan sehat, perlukah Satpam dibekali dengan perangkat CCTV yang notabene merupakan peralatan canggih? Sebagian pabrik memandang tidak perlu. Mereka lebih mengandalkan pada peralatan "Guard Patrol" atau "Watchman's Clock", sehingga Satpam-lah yang harus patroli pada jam tertentu, bukan melihat dengan camera. Namun, sebagian pabrik lain memberikan fasilitas perangkat CCTV ini kepada Satpam mereka dengan alasan luasnya area dan perlunya dokumentasi rekaman bilamana ada kejadian.  Tetapi yang jelas, persoalan ini kembali diserahkan pada masing-masing owner.
Baiklah, sebagai wacana untuk mempertajam persoalan ini, kami ilustrasikan sebuah pabrik, katakanlah seperti pada gambar di bawah ini (kliklah pada gambar untuk memperbesar!). Perhatikanlah, bagaimana camera tidak disebar berdasarkan area, namun berdasarkan pada urutan pergerakan orang (sequence). Lebih anehnya lagi, kami tidak memasang camera di Ruang Produksi sebagaimana lazimnya dilakukan. Anda banyak melihat titik rawan? Ya, tentu saja! Tetapi bagi kami perletakan seperti ini sudah mencukupi. Nah, bagaimanakah kira-kira alasannya? Camera 1 - Gerbang Utama (Main Gate)
Seperti biasa, camera penyambut selalu diletakkan di sekitar sini. Fungsinya sudah bisa ditebak, bukan? Selain sebagai pemantau tamu, camera ini berfungsi mengawasi Satpam apakah ia telah melaksanakan SOP (Standard Operating Procedure) dengan benar atau tidak terhadap tamu yang datang.

Camera 2 - Parkir Motor Karyawan / Tamu 
Dibandingkan dengan panjang area parkir, letak camera di sini memang kurang begitu efektif untuk melihat dengan jelas hingga ke setiap sudut. Tapi, jika penempatannya pas di jalur masuk atau keluar, maka camera ini bisa menjadi penghambat bagi mereka yang berniat mencuri motor atau helm karyawan.

Camera 3 - R. Masuk Karyawan (Mesin Absen Masuk)
Secara psikologis, menempatkan camera di tempat ini akan memberi efek "menakutkan" bagi karyawan. Jika kedapatan mengetokkan kartu absen temannya, maka sanksinya dia dan temannya akan terkena PHK. Perimbangkanlah untuk menempatkan camera di area ini, terlebih lagi jika pabrik memakai sistem absensi kartu "amano" ataupun proximity card.

Camera 4 - R.Keluar Karyawan (Mesin Absen Keluar)
Kendati jarang terjadi, karyawan yang pulang atau sudah berganti shift sebelum waktunya bisa terekam oleh camera ini. 

Camera 5 - Office Backdoor
Pintu P2 ini berfungsi sebagai jalur keluar-masuk sekaligus penghubung antara staf kantor dengan staf pabrik ataupun sebaliknya. Juga sebagai jalan seandainya direksi ingin mengajak client untuk meninjau pabrik melalui G4. Jalur ini jalur "hidup", sehingga kadangkala ada juga staf nakal yang meminjam sample produk dari pabrik (untuk diperlihatkan kepada client), tetapi lupa mengembalikannya. Ini bisa dikategorikan sebagai keteledoran, bahkan pencurian (terselubung) yang lama-kelamaan akan "menguapkan" aset? Harapannya, camera ini bisa mereduksi kejadian serupa, karena paling tidak rekaman kejadiannya bisa dilacak. Ini adalah salah satu dari sekian banyak fungsi camera backdoor.

Camera 6 - Backdoor Hallway
Untuk lebih meningkatkan kesadaran karyawan, maka di terminal absensi dekat pintu belakang inipun satu camera diletakkan. Harapannya sekali lagi, persoalan "titip-menitip" absen bisa diminimalisir, bahkan dikurangi sampai nol alias tidak pernah ada. Selain itu, camera ini berfungsi pula sebagai backup camera 5. Perhatikanlah, bahwasanya nanti orang yang tertangkap oleh Camera 5 akan tertangkap lagi oleh Camera 6. Inilah yang dimaksud dengan sequence. Pada tampilan DVR akan terlihat, orang dari frame nomor 5 akan masuk ke frame nomor 6. Bukankah ini satu hal menarik yang nantinya bisa dijadikan bukti yang lebih kuat? Namun, satu kendala dalam memasang camera pada posisi ini adalah persoalan silau (overexposure), sehingga objek malah tenggelam dalam cahaya putih. Oleh sebab itu, pilihlah camera yang memiliki karakteristik backlight compensation (BLC) yang baik atau nilai F Stop di atas rata-rata.

Camera 7 - Front Desk
Posisi camera di sini merupakan area favorit bagi kebanyakan instalasi CCTV dan memang benar demikian adanya. Camera ini terbilang paling sibuk merekam aktivitas di front desk, khususnya tamu (client) yang datang dan pergi. Walau fungsi front desk ini berbeda-beda antara pabrik dengan tempat lain (semisal Bank dan Hotel), tapi secara umum area ini seperti menjadi area wajib bagi instalasi camera, sehingga kamipun ikut menempatkannya di sini. Lantas, dimanakah posisi yang baik? Jika diinginkan sudut pandang lebar, maka tempatkanlah camera di sudut menghadap ke dalam. Apa sebab? Dalam banyak kasus, jika camera menghadap ke luar, maka akan muncul gejala silau (masalah ini umumnya sulit diatasi, bahkan dengan mengganti camera sekalipun!). Oleh sebab itulah, kami lebih memilih untuk menghadapkan camera ini ke arah dalam seperti terlihat pada gambar di atas. Perhatikanlah perubahan yang muncul setelah camera diubah arah!

Camera 8 - Ruang Tunggu Tamu
Alasan mengapa kami memilih tempat ini untuk dipasangi camera cukup sederhana. Pihak penerima tamu -entah itu Staf Kantor apalagi Direksi- tentu saja ingin mengetahui siapa gerangan tamunya, sehingga dia bisa menentukan apakah tamu bisa dipersilakan masuk ke ruangan atau ditemui langsung. Tentu saja setelah tamu diberitahu terlebih dahulu oleh petugas front desk. 

Camera 9 - Meeting Room
Seorang direksi tentu saja merasa "gerah" jika saat meeting tiba, namun peserta yang hadir baru beberapa orang saja. Oleh sebab itulah, maka ia perlu bantuan camera untuk memastikan peserta meeting sudah ada di tempat atau belum.  

Camera 10 - Ruang Staf Office
Diakui atau tidak, bekerja di bawah pengawasan camera terkadang bisa membuat seseorang merasa under pressure. Tetapi itulah dunia kerja, kadang-kadang untuk tetap berprestasi, direksi memandang perlu untuk memasang camera di tempat stafnya bekerja. Hanya sekadar memastikan, bahwa si A atau si B ada di tempat tentunya tidak salah, bukan? Persoalan teknis yang sering muncul di area seperti ini adalah soal sudut pandang. Lensa lebar akan memberi tangkapan objek yang seolah-olah jauh alias tidak jelas. Untuk itu prioritaskanlah area mana yang akan ditangkap. Jika ada banyak ruangan staf yang perlu diawasi, pertimbangkanlah untuk menambah lagi camera, tetapi terpisah dari sistem yang sudah ada. Apa sebab? Karena area staf ini sifatnya internal. Jadi hanya Direksi atau staf khusus saja yang boleh melihat, bukan bagian lain, terlebih lagi saat sistem CCTV kita ter-connect ke Internet!

Camera 11 - Ruang Staf Pabrik
Oleh karena dua ruangan ini terhubung secara fisik melalui selasar, maka menempatkan camera di sini bisa melengkapi sequence yang kami bangun. Selain itu, bisa terlihat pula dengan siapa seseorang berhubungan satu sama lain. Jadi posisi camera di ruangan ini terbilang cukup penting.

Camera 12 - Kantin Staf 
Lha, karyawan yang makanpun sampai diamati segala? Nanti dulu. Kadangkala karyawan terlalu asyik ngobrol di sini hingga lupa waktu. Nah, ketimbang menegur mereka secara langsung, ada baiknya memasang camera di posisi ini dengan harapan karyawan menyadari sendiri.

Camera 13 - Kantin Karyawan
Seandainya ada kantin seperti ini di pabrik anda, maka pemasangan camera di lokasi ini terasa lebih efektif untuk meningkatkan kesadaran karyawan. Jadi, pertimbangkanlah!

Camera 14 dan Camera 15 - Docking Area
Kami sendiri kurang mengerti apa penamaan yang tepat bagi lokasi bongkar muat barang, cuma kira-kira maksudnya demikian. Pencatatan kegiatan bongkar muat barang dalam log book Adm Gudang akan lebih lengkap jika disertai pengamatan dan rekaman dalam bentuk video. Setidaknya membantu dalam memastikan container warna apa sih yang mengangkut item ini pada tanggal sekian jam sekian? Atau siapakah karyawan yang mengangkut dan menurunkan barang? Dengan begitu, jika sampai terjadi kehilangan barang, maka rekamannya bisa dilacak dari awal.

Camera 16 - Water Treatment
Terakhir, sebagai bentuk perhatian terhadap lingkungan sekitar, maka satu camera kami tempatkan di area ini. Ini berguna untuk memastikan apakah kondisi pengolah limbah pabrik ini telah bekerja optimal ataukah ada kerusakan (mungkin bisa dikenali dari warna airnya?). Selain itu camera ini bisa berfungsi sebagai upaya preventif, sebab bisa saja ada anak-anak sekitar pemukiman warga yang masuk ke area ini hanya sekadar berburu layang-layang atau bahkan bermain bola! Nah, jika tertangkap camera, maka petugas security bisa bertindak cepat guna mencegah hal-hal yang tidak dinginkan. Untuk malam hari, jika memungkinkan pertimbangkanlah untuk menambah lampu penerangan di beberapa titik ketimbang memakai camera IR.

Kolaborasi CCTV dengan Mesin Absensi untuk Mencegah Karyawan Nakal

Mesin absensi (Time Attendance) tergolong produk yang rentan terhadap kecurangan yang dilakukan oleh karyawan sendiri. Istilah "titip absen" merupakan kendala bagi sebagian pengusaha saat ini, terlebih lagi apabila masih memakai sistem absensi kartu ketok (analog) yang istilahnya "mesin amano". Mengapa sampai disebut mesin amano? Hal itu disebabkan saking terkenalnya produk merk Amano dari Jepang dalam memproduksi mesin absensi yang berkualitas tinggi. Kendati "digempur" oleh berbagai jenis teknologi mesin absen yang terbilang canggih, sebut saja proximity card, fingerprint atau handkey, namun hal ini belum menyurutkan popularitas mesin Amano itu sendiri. Bahkan, kita jumpai semakin banyak model mesin Amano ini. Satu hal yang bisa kami catat mengenai reputasi dari sistem kartu ketok Amano ini adalah dalam hal kehandalannya. Seperti diketahui, kehandalan (durabilty) merupakan syarat mutlak bagi satu sistem absensi yang dioperasikan sepanjang waktu. Mesin absensi tidak boleh error barang sedetikpun dan harus mudah dipakai. Hal ini kontras dengan sistem absensi lain, sebut saja sidik jari (fingerprint). Walaupun tidak mungkin terjadi titip absen, namun berdasarkan pengalaman sistem absen sidik jari ternyata lebih sering error (hang), terutama jika jumlah antrian karyawannya banyak. Apakah anda mengalaminya? Paparan kami kali ini bukan seputar perbandingan kecanggihan dari setiap mesin absen. Kami lebih tertarik pada bagaimanakah cara mengurangi "absensi palsu" yang dilakukan oleh karyawan, khususnya bagi yang memakai sistem kartu ketok amano. Di akhir paparan nanti, kami tidak menghujamkan rekomendasi ke arah pemakaian face recognition sebagai solusi utama, karena kami menyadari betul bahwa tidak setiap perusahaan mampu membeli peralatan semahal itu.
Baiklah kita mulai saja dengan ide dasarnya. Untuk menerapkan sistem ini sebenarnya mudah. Kita tinggal menempatkan camera sedemikian rupa, sehingga gerak-gerik karyawan saat mengabsen bisa terekam dengan baik melalui DVR. Weleh, apakah masalahnya sesederhana itu? Ya, memang seperti itulah konsep dasarnya. Wah, gampang dong kalau begitu! Memang, untuk membangun sistem yang handal, adakalanya kita tidak memerlukan peralatan super canggih. Selama sistem tersebut bisa mencapai tujuan yang diharapkan, maka kitapun bisa memakainya. Pada topik kali ini, jika kami boleh menyebut dengan istilah asing agar tampak keren, maka sistem ini disebut CCTV Surveillance for Time Attendance (CSTA).

Sistem yang sederhana ini terdiri atas:
1. Camera
2. DVR Standalone
3. TV Monitor (optional)
4. PC Laptop (optional)
5. USB Disk (optional)
6. Warning Decal

Dalam penjelasannya nanti kami akan mengambil contoh sistem absensi existing yang ada pabrik skala kecil. Perhatikanlah bagaimana camera ditempatkan di berbagai sudut (angle) sebagai bahan referensi pembaca sekalian. Diakui atau tidak, penempatan camera yang tepat akan memberi efek psikologis tersendiri bagi siapa saja yang berada di depannya. Lalu, bagaimanakah nanti DVR di-setting untuk keperluan ini? Apa pula fungsi PC / Laptop dan USB disk? Terakhir, warning decal seperti apakah yang enak untuk dipampang?

Basic Illustration
Sebagai pembuka wacana, kira-kira demikianlah ilustrasi dasar dari sistem sederhana yang dimaksud. Secara umum, mesin amano biasanya ditepatkan di bagian tertentu, entah itu di luar ataupun di dalam ruangan. Namun, ide dasar penempatan camera adalah: letakkan camera sekitar 2m - 2.5m di atas lantai dengan mengarah tepat ke depan mesin absen. Upayakan satu camera mengamati satu mesin absen, sehingga sudut pandangnya bisa diatur lebih dekat. Ambillah objek setengah badan dengan cara mengatur lensa (lensa jenis varifocal lebih pas untuk keperluan ini!). Dengan mengambil objek setengah badan, identitas karyawan bisa lebih dikenali.

Jika menerapkan sistem absen per Departemen, maka ilustrasinya bisa seperti gambar di atas. Terlihat dua mesin absen TA1 dan TA2 diletakkan di satu tempat, namun karyawan mengambil jurusan berbeda. Upayakan juga agar gambar Camera 1 tidak overlap dengan Camera 2, karena ini akan menyulitkan identifikasi. Kami yakin dari ilustrasi di atas, pembaca sekalian (khususnya para staf HRD) dapat membuat sistem yang jauh lebih baik, karena sesuai dengan kondisi real di lapangan. Lalu, bagaimanakah dengan fungsi DVR? Insya Allah kami paparkan konfigurasinya pada sesi selanjutnya.

DVR Record Mode 
Sekurangnya kita mengenal 5 (lima) mode perekaman DVR. Nah, dari semua mode ini, manakah yang bisa diaplikasikan ke dalam sistem pengawasan absensi ini? Menurut kami ada 3 mode, yaitu: Manual,  Schedule dan Motion. Namun, pertimbangkanlah dulu mode Schedule sebelum mencoba mode lainnya. Dengan mode ini, kita bisa menetapkan jadwal rekaman per hari yang disesuaikan dengan  jam kerja. Misalkan, dari Senin hingga Sabtu mulai pukul 07.30 - 08.30 (jam  kedatangan), dilanjutkan lagi dengan pukul 17.00 - 17.30 (jam kepulangan). Bagi yang menerapkan sistem shift, DVR bisa di-setting agar merekam pada tiga waktu shift berbeda setiap hari dengan durasi antara 1/2 hingga 1 jam. 

Lantas, berapa fps-kah sebaiknya recording framerate kita set? Silakan anda tentukan, karena untuk keperluan ini kecepatan 5 fps pun sudah sangat memadai. Ingat, ini adalah satuan per detik, sehingga kita tidak akan kehilangan momen! Sedangkan untuk video Quality bisa dipilih Normal atau High (bila perlu). Untuk setting awal DVR selesai hingga di sini. Sekarang, bagaimanakah kira-kira daily operation-nya?

Masih Seputar IR Cam

Tidak dipungkiri, bahwa hasil camera Infra Red (IR) tidak selalu sesuai dengan harapan. Dalam beberapa kasus, sering kita jumpai cahaya IR dari camera tidak bisa menjangkau semua cakupan objek, sehingga hasil gambar masih jauh dari memuaskan. Pasalnya, pada beberapa merk, sinar IR hanya berpusat di tengah objek, sedangkan di sekelilingnya masih kelihatan gelap. 

 

Selain camera IR, ada pula Day&Night Camera (D&N) yang tidak dilengkapi IR. Kendati tidak dilengkapi dengan IR, namun adakalanya camera D&N sudah cukup mumpuni untuk daerah-daerah gelap, sekalipun tidak gelap total.

Persoalan Utama: Kuat Cahaya!
Saat mencari camera outdoor untuk kebutuhan malam, kita dihadapkan pada persoalan seberapa kuatkah cahaya yang ada pada malam hari? Apakah kita dibolehkan untuk menambah penerangan ataukah membiarkan camera bekerja dengan cahaya apa adanya?

Jika dimungkinkan untuk menambah lampu penerangan, maka sejujurnya cara inilah yang paling cepat dan tepat dalam mengatasi problema ini. Cuma, seberapa besar penerangan yang diperlukan? Objek mana saja yang perlu diterangi? Penerangan jenis apakah yang ideal? Semuanya masih bersifat tentatif, bukan?

Seperti pernah kami paparkan, bahwa untuk menilai bagus tidaknya satu camera, maka secara objektif hal itu hanya bisa dilakukan dengan mencobanya langsung di lapangan. Nah, jika ada kesempatan dari vendor  untuk mencoba langsung dalam kondisi real, maka manfaatkanlah kesempatan ini.

1. Setelah ada gambaran mengenai kisaran harga dan biaya instalasinya, maka     pilihlah dua tipe camera yang mewakili, yaitu tipe IR dan tipe Day&Night (tanpa IR). Pastikan budget anda mencukupi untuk kedua tipe itu.

2. Sedapat mungkin tempatkanlah camera di atas tripod. Arahkan camera pada objek yang sebenarnya,  sekalipun nantinya dipasang lebih tinggi.

3. Stay natural. Biarkan dulu cahaya lampu apa adanya, bahkan tidak ada cahaya sama sekali. Perlu diketahui, kita akan mencoba dua tipe camera berbeda, dimana cahaya lampu dan IR akan saling memengaruhi.

4. Pakailah DVR untuk meng-capture atau merekam hasil gambar. Waktu yang dirasa paling pas untuk mengetahui performa camera pada malam hari adalah antara pukul 18:00 - 19:00, yaitu saat matahari terbenam dan malam mulai tiba.

5. Cobalah camera satu per satu, boleh yang tanpa IR dulu, setelah itu camera IR. Jangan mencoba bersamaan, karena cahaya IR akan "tertangkap" oleh camera tanpa IR.

6. Perhatikanlah hasilnya. Manakah yang menurut anda paling pas?

Kesimpulan
Parameter camera yang tercantum di dalam spesifikasi teknis tenyata masih perlu dibuktikan langsung di lapangan. Pasalnya, parameter itu sifatnya kuantitatif, sementara mata kita hanya bisa bekerja secara kualitatif. Namun persoalannya tidak semua vendor yang mau dan bisa melakukan "try before buy", sehingga jangan heran apabila kualitas camera yang dipasang ternyata tidak sesuai dengan harapan. Hanya vendor tertentu saja yang bisa dan mau untuk melakukannya.