Pentingnya Faktor Desain
Dalam bidang apapun aspek desain selalu menempati posisi penting, bahkan boleh dikatakan paling penting. Apa sebab? Sebab desain inilah yang menentukan tolok ukur keberhasilan satu pekerjaan. Sebagaimana sering dibahas dalam ilmu-ilmu manajemen, Planning  merupakan tahap awal yang fundamental dalam konteks POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling). Kami mencoba menerapkan konteks ini ke dalam bidang yang kami geluti sehari-hari, yaitu Alarm & CCTV. Titik tumpuan pertama dalam bahasan kami adalah soal Planning yang salah satunya adalah segi desain itu sendiri.

Diakui atau tidak,  camera CCTV pada umumnya memiliki sisi yang nilainya subjektif. Kami sering mengatakan hal ini pada berbagai kesempatan, baik kepada vendor (penjual), installer (pemasang/teknisi), bahkan adakalanya langsung kepada user (pemakai).  Subjektif di sini artinya penilaian soal bagus atau tidaknya gambar (baca: camera) terletak di pihak user sendiri. Apa yang ingin kami sampaikan di sini adalah vendor yang baik (baca: profesional) akan selalu mengedepankan keinginan user selaku pemakai ketimbang menggiring opini user untuk memakai produk yang sebenarnya tidak memenuhi kriteria dan belum tentu sesuai dengan keinginan user. Penggiringan opini inilah yang kadangkala membuat sistem menjadi berantakan dan berumur pendek, karena tidak bisa dipertanggungjawabkan dari segi teknis. Pada gilirannya, hal ini akan berdampak pada tingginya biaya service (high service cost), karena teknisi bolak-balik ke lapangan hanya untuk mengatasi masalah yang sama.

 Namun, subjektivitas pun tidak berati menyerahkan desain sepenuhnya kepada user, walaupun sebenarnya bisa saja seperti itu. User yang terbilang awam dalam masalah camera biasanya akan meminta vendor untuk merancang sekaligus memasang sistem camera di tempat mereka. Dari sinilah satu desain sistem CCTV bermula.

Aspek Desain
Desain sistem CCTV yang sempurna nyaris tidak dapat terwujud hanya dalam waktu satu dua hari. Terkadang kita memerlukan waktu lebih banyak, bahkan mungkin berbulan-bulan untuk satu proyek yang terbilang kompleks. Hal ini berkaitan erat dengan banyak hal, mulai dari pengajuan proposal, pemilihan produk, sampai kepada persoalan cost (ini yang paling penting!). Memang lamanya waktu ini sangat relatif, terkadang bisa cepat, sedang atau lama. Jadi dalam desain, faktor kecepatan tidaklah menjadi prioritas (setidaknya menurut sisi kami!), melainkan ketepatan dan kecermatan dalam menempatkan titik camera serta pemilihan produk yang tepat. Desain CCTV yang baik hendaknya mencakup aspek-aspek  berikut ini:

1. Memenuhi keinginan user 
Inilah yang terpenting, sebab userlah yang perlu kita penuhi keinginannya! Hal ini bisa diketahui saat kita memenuhi undangan user untuk melakukan site survey. Perlu diingat, user pun memiliki keinginan sendiri yang sudah ada dalam benaknya. Jadi, saat survey kita lebih banyak mendengarkan keinginan user, mencatatnya dan membuat sketsa lokasi (jika belum ada). Site survey melahirkan apa yang disebut dengan desain awal (preliminary design). Tergantung pada jumlah camera dan kompleksitas sistem, maka sebuah desain awal masih memerlukan polesan di sana sini. Semakin dapat kita menampung keinginan user, semakin tinggi pula tingkat kredibilitas kita di mata mereka. Oleh sebab itu sempatkanlah bertanya mengenai apa yang mereka inginkan. Informasikan pula bahwa sistem kami bisa begini dan begitu, tanpa bermaksud menggiring opini mereka, kecuali jika mereka menginginkan feature yang baru kita jelaskan tadi. 

2. Menawarkan solusi 
Tidak dipungkiri bahwa tujuan vendor adalah menjual produk. Namun, vendor yang baik lebih mengedepankan solusi ketimbang hanya mengejar target penjualan. Terdengarnya sangat idealis, tapi kenyataannya user lebih menyenangi vendor yang bisa memberikan solusi ketimbang hanya menjual produk semata. Silakan buktikan sendiri. Oleh sebab itu, dalam proposal teknis hendaklah aspek solution ini lebih dikedepankan. Setelah itu baru membahas aspek selling.  

3. Sederhana
Desain yang baik adalah desain yang sederhana. Bagi kami kecanggihan suatu alat justru terletak pada kesederhanaan dalam pemasangan ataupun pemakaian. Kesederhanaan desain selain  bisa menghemat biaya (cost effective), juga berdampak nyata pada easy installation, easy operation dan easy maintenance. Percayalah!

4. Tepat
Tepat di sini artinya benar dalam memilih dan menempatkan produk sesuai dengan spesifikasi dan fungsinya, tidak dipaksa bekerja di atas spesifikasi maksimumnya. Menetapkan produk yang cocok termasuk hal yang sulit, bahkan terkadang kita melakukan trial and error terlebih dahulu. Namun, dengan lebih mengenal karakteristik satu produk, maka kesalahan yang terjadi umumnya masih tergolong kecil.

5. Jelas dan Bersih
Desain yang jelas dan bersih (clear & clean) lebih disukai user ketimbang desain yang wah, namun sulit dipahami.  Titik camera dalam denah lokasi haruslah terlihat jelas, tidak tenggelam oleh detail gambar lainnya, seperti titik lampu, layout tanaman atau furniture. Demikian pula dengan single line diagram, buatlah sesederhana mungkin agar mudah dipahami, bahkan oleh orang awam sekalipun.

Setelah desain awal kita selesaikan, maka tahap selanjutnya adalah mengajukan desain ini ke pihak user. Ada kalanya pada tahap ini terjadi pengurangan atau penambahan di sana sini, sebab  keinginan user bisa saja berubah dari keputusan sebelumnya. Oleh sebab itu, faktor Critical Design Review (CDR) menjadi penting. Mengenai apa dan bagaimanakah CDR itu, nantikanlah pada posting kami selanjutnya.

 Critical Design Review (CDR)

Istilah CDR sebenarnya melekat pada proses sistem engineering  dimana satu desain dinilai telah matang untuk diproduksi, dirakit, diintegrasikan dan diuji secara massal. Disebutkan pula bahwa salah satu tujuan dari CDR adalah “to verify that the final design fulfills the specifications established at PDR” (memastikan bahwa desain akhir telah memenuhi spesifikasi yang disebutkan di dalam Preliminary Design Review atau PDR).  PDR tidak termasuk dalam bahasan kami, sebab ia masih berupa desain awal yang masih mentah. Kami hanya menggarisbawahi apa yang dimaksud dengan CDR. Di sisi lain, bisa jadi kami salah dalam menggunakan istilah, akan tetapi gambaran di atas melukiskan betapa pentingnya peran sebuah desain. Terlebih lagi untuk CCTV, karena fungsi CCTV sendiri terbagi ke dalam dua kategori besar, yaitu:
1. CCTV untuk kemanan.
2. CCTV untuk produktivitas.

Apapun kategorinya, desain yang baik akan menjadi tolok ukur keberhasilan satu proyek secara keseluruhan. Nanti kami akan berikan 3 (tiga) contoh desain CCTV yang umum, yakni untuk Hotel, Pabrik dan Public Area (Mall). Perhatikanlah bagaimana seorang chief security bisa memperoleh full area coverage di Posnya, manager hotel bisa keep smiling melihat tingkat okupansi hotelnya atau seorang pimpinan bisa tetap sit back and relax di ruangan kerjanya sambil menerima tamu.  Ini semua bisa diperoleh berkat desain CCTV yang optimal dengan menerapkan metode CDR.

 CDR Check List

Untuk memantapkan desain ada baiknya jika kita membuat dulu semacam cek lis (check list). Sekalipun hanya memuat hal-hal yang umum, namun adakalanya cek list seperti ini berguna untuk mengantisipasi pertanyaan user sebelum memutuskan ya atau tidak. Jika waktu masih luang, lakukanlah check and recheck beberapa kali terhadap desain kita melalui pembicaraan yang intensif dengan (calon) user, baik secara langsung maupun per telepon. Jika user sibuk dan menunjuk orang lain untuk mewakilinya,  pastikanlah orang yang ditunjuk inipun mengetahui persis kebutuhan user dari awal. Namun seandainya tidakpun, kita bisa menjelaskan kepada dia, bahwa kebutuhan user itu adalah yang seperti ini, seperti ini dan selanjutnya.

 Tabel berikut hanya memperlihatkan contoh CDR Check List yang dimaksud. Tidak perlu persis seperti ini, bahkan mungkin anda bisa menambahkannya sendiri.

No.

Check List

Ya

Tidak

Keterangan

 1.

Layout camera sudah sesuai dengan keinginan user?

     

 2.

Sudut pandang lensa memenuhi kebutuhan?

     

 3.

Pemilihan tipe camera sudah paling tepat?

     

 4.

Single line diagram mudah dipahami?

     

 5.

Panjang kabel memenuhi syarat?

     

 6.

Perlu penambahan unit penguat?

     

 7.

Perlu penerangan tambahan di lokasi?

     

 8.

Spec.DVR memenuhi keperluan user?

     

 9.

Max.hard disk sudah ditentukan?

     

10.

Ada isu lain?

     


Pada kolom keterangan, cantumkanlah hal-hal yang masih perlu dibicarakan dengan user. Setelah desain matang, barulah kita melampirkannya pada proposal penawaran harga. Jangan lupa mencantum wiring diagramnya sekalian (itupun jika kita tidak khawatir desain kita dibajak orang!).

 Simple CCTV Application for Home Surveullance

Aplikasi CCTV untuk rumah tinggal bisa dimulai dari yang sederhana sampai dengan yang lumayan canggih. Kendala utama aplikasi CCTV di rumah tinggal umumnya berkisar pada soal anggaran (budget). Itu pasti! Kendala kedua adalah soal fungsi yang biasanya tidak terlalu penting selain untuk mengamati "siapa sih di luar sana?". Oleh sebab itu banyak rumah tinggal cukup hanya memasang satu camera di depan yang mengarah ke pintu pagar. Sedangkan kendala ketiga adalah membanjirnya produk CCTV paket hemat, sehingga makin membingungkan owner dalam memilih produk mana yang sesuai dengan kebutuhan. Adapun kendala ke-4 adalah informasi produk yang simpang siur, ditambah dengan jarangya penjual (vendor) yang berani melakukan try before buy (coba sebelum beli).

 Sebagai pembekalan, pada posting kali ini kami akan menjelaskan jenis konfigurasi CCTV sederhana untuk aplikasi di rumah tinggal. Sederhana di sini tidak identik dengan murah atau tidak canggih. Adakalanya kecanggihan satu sistem malah terletak pada kesederhanaan dan kemudahan dalam mengoperasikannya. Oleh sebab itu, peralatan elektronik dengan banyak tombol dan pengaturan pada umumnya kurang disukai oleh pemakainya (baca: user/customer). Bagaimana dengan anda? 

Sistem yang baik adalah sistem yang bisa memenuhi keinginan user, sekalipun tidak begitu canggih. Kami akan paparkan di sini sebagian dari peralatan sistem CCTV yang tidak begitu canggih tersebut. Panduan ini dianggap perlu untuk memperoleh pemahaman dasar, sehingga user dapat memilih sistem mana yang sesuai dengan kebutuhan dan anggarannya.

 1. Switcher
Jika memasang lebih dari satu camera, maka peralatan paling sederhana yang diperlukan adalah Switcher. Switcher hanya bisa menampilkan camera satu-satu secara bergiliran, baik dipilih secara manual ataupun auto. Pada mode auto, gambar akan berpindah dari satu channel ke channel lain dalam selang waktu tertentu, misalnya setiap 10 detik. Lamanya perpindahan ini disebut dwell time yang biasanya diatur dengan memutar knop di depan unit. Selain itu ada juga mode SPOT. Pada mode ini monitor hanya menampilkan satu channel saja (yang dipilih). Terakhir adalah mode BYPASS. Pada mode ini camera yang di-bypass tidak memperoleh giliran tampil di monitor.
Kekurangan Switcher adalah user hanya bisa melihat satu camera saja dalam satu saat. Dengan kat alain, tidak bisa melihat semua camera dalam waktu bersamaan. Oleh karena itu, switcher kurang pas diterapkan sebagai solusi keamanan, karena ada momen yang luput dari pengamatan. Saat menampilkan satu camera, maka camera lainnya tidak bisa dilihat.

2. Quad Unit
Kelemahan Switcher bisa diatasi dengan unit ini. "Quad" artinya empat. Oleh sebab itu unit ini memiliki 4 input. Kelebihannya adalah bisa menampilkan 4 camera sekaligus maupun satu per satu, sehingga bisa berfungsi juga sebagai Switcher. Pada beberapa tipe ada yang dilengkapi dengan remote control, sehingga pengoperasiannya semakin mudah. Adapun istilah "Dual Page Quad" digunakan pada Quad yang memiliki input 8 channel. Dengan demikian diperoleh dua Quad, yaitu Quad A dan Quad B dalam satu perangkat. Ketimbang Switcher, Quad lebih cocok pada aplikasi CCTV untuk keamanan, karena bisa  menampilkan 4 camera sekaligus di layar monitor. Jadi user atau petugas keamanan bisa memantau semua lokasi sekaligus.

3. Multiplexer
Multiplexer bisa menampilkan channel yang lebih banyak, yaitu 8 atau 16 Channel. Untuk rumah tinggal, jumlah sebanyak itu sudah lebih dari cukup, sebab owner bisanya tidak mau "disibukkan" oleh urusan pengawasan seperti ini. Kelebihan multiplexer lebih terasa saat kita menghubungkannya dengan unit perekam (recording) yang pada masa lalu didominasi oleh video cassette recorder (VCR). Jika terhubung dengan Time Lapse Video Recorder, unit ini bisa menjalankan dua fungsi, yaitu menampilkan (Live) dan merekam (Record). Artinya saat owner memutar rekaman (playback), fungsi recording terus berjalan dan tidak terputus. Fungsi seperti ini dinamakan duplex. Ini tidak bisa dilakukan baik oleh Quad apalagi Switcher.

Dengan semakin berkembangnya teknologi, lambat laun peran multiplexer digeser oleh kehadiran DVR, baik jenis Standalone DVR ataupun PC Base. Bisa dikatakan saat ini adalah era kejayaan DVR, karena semua fungsi switcher, quad dan multiplexer bisa dirangkum jadi satu. Selain itu yang paling menarik dari DVR adalah kemampuannya untuk merekam. DVR tidak memakai pita video, melainkan hard disk. Pada DVR, kejadian gambar yang rolling atau bergetar saat memutar rekaman  (playback) sudah tidak terjadi lagi. Inilah yang membuatnya populer saat ini.
Namun, pada beberapa instalasi kita masih memerlukan unit multiplexer, misalnya sebagai slave controller di ruang security (satpam). Hal ini dimungkinkan berkat adanya terminal loop through output yang ada di belakang unit. Dengan demikian kita bisa melakukan perluasan camera secara sambung menyambung (cascade).