Accessories CCTV kadangkala diperlukan, baik saat kita menghadapi problem di lapangan maupun untuk keperluan lainnya. Problematika CCTV yang paling sering terjadi adalah gangguan interferensi dan gambar gelap di malam hari. Ini adalah hal lumrah, terlebih lagi pada instalasi camera outdoor di pabrik dengan tarikan kabel yang jauh-jauh. Di sisi lain, ancaman dari petir malah kerapkali terabaikan. Jarang sekali kami dapati instalasi camera yang menyertakan anti-petir di dalamnya, kecuali setelah didapati peralatan yang rusak oleh sengatan petir. Di sinilah pentingnya accessories anti-petir dipasang. Ini hanyalah contoh saja.

Namun, di sisi user penambahan accessories CCTV ini tentu saja memakan budget yang lumayan besar. Katakan saja jika setiap titik camera dipasangi peralatan anti-petir, maka berapa banyak cost tambahan yang mesti dikeluarkan untuk 16 camera? Jadi, alih-alih membeli CCTV paket hemat, malah akhirnya biaya jadi membengkak lantaran penambahan accessories di sana-sini. Kalau begitu, seberapa pentingkah peranan dari accessories CCTV ini?

Ibarat pepatah tak kenal maka tak sayang, maka pada posting mendatang insya Allah kami akan ajak anda untuk mengenal dulu beberapa accessories CCTV yang dimaksud. Soal nantinya akan dipakai atau tidak, hal itu terserah pada anda dan vendor, sebab accessories ini ada yang mutlak harus dipasang, tetapi ada juga yang tidak. Harapan kami semoga melalui tulisan kecil ini, anda bisa mengenalinya satu per satu. Bagaimana, setuju?

Baiklah, berdasarkan fungsinya accessories CCTV ini bisa kami bagi ke dalam 4 (empat) kategori, yaitu:

1.Accessories untuk meningkatkan performance, diantaranya:
   Video AmplifierIP Extender hingga External Infra Red Lamp.

2.Accessories untuk menghilangkan gangguan (trouble), yaitu:
   Ground Loop Isolator beserta jajarannya.

3.Accessories untuk menambah fungsi (perluasan), seperti:
  Video Distributor, Data DistributorVGA Distributor termasuk pula RS-232 to RS-485 Converter.

4.Accessories untuk melindungi peralatan (protection), yaitu:
   Surge Protection untuk Video, Power dan Data.

Disebabkan adanya pembagian ini, maka acessories seperti: camera mounting bracket, camera housing serta pan-tilt motor tidak kami masukkan ke dalam pokok bahasan mengingat fungsi masing-masingnya sudah jelas. 

1. Video Amplifier

Pernahkah anda mengalami masalah berupa gambar bintik-bintik seolah-olah dipenuhi "semut", baik di waktu terang apalagi saat gelap? Jika ya, maka inilah pertanda awal dari sinyal video yang lemah. Penyebabnya bisa bermacam-macam, mulai dari kabel yang terlalu panjang, kualitas kabel yang buruk ataupun kurang cahaya. Kabel terlalu panjang menyebabkan signal loss menjadi besar. Oleh karena itu, menyisipkan sebuah Video Amplifier antara camera dengan monitor (DVR) merupakan solusi cerdas. Sesuai dengan namanya, maka sinyal video yang lemah tadi akan dikuatkan oleh unit ini. Tapi tunggu dulu! Sebelum memutuskan untuk memasang video amplifier, kita perlu memperhatikan dulu gejalanya dengan seksama, yaitu:           

1. Jika pada siang hari gambar terlihat bagus, sedangkan saat gelap gambar bersemut, maka itu bukan pertanda sinyal loss, melainkan kurang cahaya. Dalam kondisi seperti ini, memasang video amplifier tampaknya tidak menyelesaikan masalah secara signifikan.

 2. Jika saat terang gambar cenderung tidak mantap (unsteady) dan berbintik-bintik pula, maka pada kondisi inilah unit video amplifier bisa membantu.

 Pertanyaan selanjutnya adalah di manakah sebaiknya unit ini dipasang: apakah di dekat camera, di tengah-tengah atau di ujung (dekat monitor)? Sepanjang pengetahuan kami, tidak ada referensi yang mengharuskan di sini atau di sana. Artinya, secara teori kita bebas meletakkan unit ini di mana saja asalkan di sana terdapat sumber listrik 220VAC, karena unit ini memerlukan power. Cara termudah adalah dengan mencobanya dulu di dekat monitor. Jika sudah baik, maka biarkanlah unit diletakkan di sana. Jika penasaran, anda bisa mencoba posisi lainnya, entah dekat camera atau di tengah-tengah.

 Video amplifier ada yang memiliki jumlah Channel 1 atau 4. Pada beberapa tipe ada yang dilengkapi dengan pengaturan gain dan filter frekuensi tinggi. Hal ini disebabkan saat kita menguatkan sinyal video, sinyal lainpun akan ikut dikuatkan pula, sehingga hasil penguatanpun akan campur-aduk antara sinyal asli dengan noise. Nah, agar hasilnya benar-benar optimal diperlukan pengaturan gain dan filter frekuensi tinggi seperti itu. Hal ini bertujuan  untuk memperoleh nilai perbandingan sinyal terhadap noise (signal to noise ratio) yang besar. Artinya, sinyal asli dikuatkan sedangkan noise ditekan.

2. IP Extender
Masih termasuk dalam jajaran ini adalah IP Extender. Jika anda sudah memasang IP Camera, namun masih "terbelenggu" dengan batasan jarak 100m, maka alat ini diklaim bisa menambah jarak kabel hingga 1200m. Alat ini termasuk tidak banyak diketahui orang, sehingga kami mengenalkannya untuk anda, tanpa bermaksud promosi tentunya.
Hal yang menarik dari unit ini adalah kita bisa menyalurkan sejumlah IP Cam dari satu gedung ke gedung lain dalam satu kawasan. Selain itu aplikasinya tidak terbatas hanya IP Cam saja, melainkan untuk seluruh peralatan yang memakai TCP/IP. Sungguh satu accessories CCTV yang bermanfaat!

Sekarang keadaannya dibalik. Bagaimana jika kita sudah memiliki instalasi kabel coaxial, namun kantor berencana mengganti semua camera analog dengan IP Cam tanpa mau ribet menarik kabel UTP lagi?
Untuk jarak yang tergolong dekat hingga 200m kita bisa menggunakan sepasang IP01 untuk setiap IP Cam. Untuk jarak lebih jauh, maka IP02 bisa dipertimbangkan. Berbeda dengan IP01 yang bekerja tanpa power, maka IP02 harus memakai power supply (adaptor) 12VDC.

3. External IR Illuminator

Mungkin kurang pas jika kami memasukkan accessories ini bersamaan dengan peralatan di atas mengingat tidak ada korelasinya. Hal yang menarik adalah bahwa unit ini bisa meningkatkan performance camera kita. External IR illuminator bisa ditambahkan apabila lampu infra red pada IR Camera kita kurang bisa menjangkau area-area tertentu. Namun, biasanya ini bukan pilihan yang disukai mengingat harga unit ini terbilang mahal ketimbang menambah pencahayaan dengan lampu biasa. Untuk aplikasi tertentu, misalkan instalasi camera di sarang burung walet atau di objek vital lainnya, memasang lampu infra red tambahan ini merupakan satu keharusan, karena di lokasi tidak dibolehkan adanya cahaya terang. Unit ini berguna pula pada instalasi camera di tempat terpencil, misalnya di menara BTS, yang dikombinasikan dengan feature video capture dari camera. Satu hal yang perlu digarisbawahi adalah tidak semua camera berwarna bisa ditambahkan IR Illuminator. Jadi, sebelum memutuskan untuk memakai unit ini, periksalah dulu spesifikasi camera kita. Camera yang cocok adalah dari jenis Day&Night Camera yang memiliki parameter ICR (infra red cut-off removable). Tanpa parameter ini, camera tidak akan memberi reaksi apa-apa saat infra red dinyalakan. Jika anda ragu, sebaiknya mintalah pada penjual agar mendemokannya dulu sebelum membeli. Tentunya hal ini harus dilakukan pada malam hari dan langsung di tempat dimana camera terpasang. Unit ini sangat mudah dipasang, kita tinggal menancapkannya ke sumber listrik 220VAC. Dilengkapi dengan fotosensor, sehingga illuminator ini hanya bekerja saat gelap saja. Jadi, di siang hari secara otomatis tidak bekerja. Satu hal yang harus diwaspadai adalah spesifikasi jarak dan umur lampu LED-nya. Walau dalam spec. disebutkan jarak jangkau (range) 15m, 30m, 60m bahkan lebih, namun kebanyakan dalam prakteknya tidaklah demikian. Banyak faktor yang mempengaruhi berkurangnya jarak, sebut saja tanaman dan tanah. Kedua unsur ini bisa menyerap energi infra red secara signifikan, sehingga jarak jangkaunya berkurang. Oleh sebab itulah diperlukan demo terlebih dahulu sebelum memilih unit dengan jarak jangkau yang lebih jauh.

4. Ground Loop Isolator

Bahasan seputar ground loop pernah kami muat di sini dan di artikel sebelumnya. Bagi yang ingin merujuk ke sana kami persilakan. Sepanjang pengalaman, unit ini sudah terbukti kehandalannya sebagai penghilang gangguan noise atau interferensi. Memang diperlukan analisa lebih cermat sebelum memutuskan untuk memasang unit ini. Namun, apabila deadline proyek sudah dekat, sementara tidak cukup waktu untuk menarik kabel baru guna menghindari gangguan, maka -boleh jadi- unit ini merupakan solusi cerdas. Dalam analisa awal, siapkanlah minimal 2 unit ground loop isolator. Pasanglah dekat dengan DVR atau monitor terlebih dulu dan perhatikanlah hasilnya. Jika gangguan hilang, biarkanlah unit ini terpasang di sana (jangan menganalisa lagi!). Lanjutkan di jalur camera lain (atau bisa "meminjam" dulu GL yang terpasang tadi). Adakalanya kita memerlukan dua unit, yaitu satu di dekat camera dan satu lagi dekat DVR. Oleh sebab itulah, sebaiknya kita menyiapkan 2 buah sebelum berangkat ke lapangan untuk melakukan troubleshooting. Dengan melakukan beberapa kombinasi, nantinya diketahui berapa buah ground loop isolator yang diperlukan untuk menghilangkan semua gangguan tersebut.
Beberapa tipe ground loop isolator bisa terlihat pada gambar di atas. Jika sudah memasang coaxial cable, maka gunakanlah tipe GL. Untuk sistem Video Balun, kita bisa memilih unit yang sudah dilengkapi ground loop isolator (TGP001).


5. Video Distributor

Pernahkah anda mencabangkan output camera atau DVR ke dua buah monitor dengan menggunakan T Connector? Apa yang terjadi? Gambar di salah satu atau kedua monitor tersebut cenderung memudar, bukan? Ini disebabkan impedansi pada output camera / DVR menjadi berkurang, karena dibebani oleh dua monitor sekaligus. Itu baru dua monitor. Lantas, bagaimana jika disebar ke tiga, bahkan empat monitor sekaligus? Untuk itu kita memerlukan unit video distributor agar gambar di setiap monitor tetap terjaga kualitasnya. Seperti terlihat pada gambar di bawah ini, video distributor terkecil memiliki 1 input dengan jumlah output mulai dari 2, 4, 8 bahkan sampai dengan 16 output. Seperti kebanyakan peralatan aktif lain, unit ini memerlukan tegangan 12VDC dari adaptor dan pemasangannyapun cukup mudah. Video distributor ini umumnya sudah dilengkapi dengan amplifier 10dB, sehingga diklaim bisa mendistribusikan video hingga jarak 1000m melalui kabel coaxial RG-59. Di beberapa tipe ada yang dilengkapi dengan pengaturan sharpness dan brightness.

6. RS-485 Data Distributor

Accessories ini penting untuk meningkatkan performa keyboard speed dome. Sedikit sekali installer yang mengetahui, bahwa jika kabel data ditarik secara home-run dan menumpuk pada keyboard, maka satu saat akan mengundang masalah. Persoalan tersebut sudah kami bahas di sini, silakan pembaca rujuk kembali jika mau. Dengan menambah unit ini, persoalan keyboard speed dome dapat teratasi. Diagram di bawah ini menjelaskan fungsi dari alat yang dimaksud. Walaupun tampak sederhana, namun kita tidak khawatir lagi keyboard menjadi macet, karena kabel data dari setiap speed dome kini berdiri sendiri-sendiri secara independen.

7. Aplikasi Video Balun untuk Speed Dome (PTZ Motor)

Kami pernah beberapa kali ditanya mengenai aplikasi video balun untuk camera Speed Dome, sehingga kali ini kami ingin membaginya kepada pembaca. Seperti diketahui, camera speed dome merupakan salah satu camera favorit (kecuali harganya!), karena bisa berputar ke segala arah hingga 360 derajat. Tetapi dalam aplikasinya, camera ini memerlukan tiga jenis kabel yang berbeda, yaitu kabel untuk power, kabel video dan kabel data. Menarik tiga utas kabel sekaligus bukanlah pekerjaan enteng, terlebih lagi jika jaraknya jauh.

Namun, aplikasi ini memiliki keterbatasan yang perlu dicatat, yaitu:
1. Power yang bisa disalurkan adalah 12VDC (bukan AC), sedangkan camera speed dome dan motor pan tilt pada umumnya memakai tegangan 24VAC, bahkan ada yang 220VAC! Menggabung power AC, video dan data dalam satu kabel UTP bukan merupakan ide yang baik, karena bisa mengundang interferensi dan bahaya apabila tegangannya 220V. Saran kami, jika speed dome memakai power 24VAC terlebih lagi jika 220VAC, ambillah sumber tegangan langsung di dekat camera, jangan menyalurkannya melalui kabel UTP!
2. Menyalurkan power 12VDC pada kabel UTP pun memiliki keterbatasan jarak, yaitu hanya 50m saja, sehingga hal ini perlu diwaspadai. Penjelasan seputar persoalan ini sudah pernah kami bahas di sini. Silakan rujuk kembali jika mau.

Alhasil, tanpa melibatkan power, alat ini bisa menyalurkan video dan data hingga 400m melalui kabel UTP. Sedangkan jika dengan power, maka jaraknya hanya 50m saja. Oleh sebab itu, untuk instalasi jarak jauh sebaiknya kabel power kita pisahkan. Walaupun power mesti terpisah, setidaknya accessories yang satu ini berguna dalam meringankan instalasi, bukan?

 Installing a Simple and Good CCTV Power

Power Supply Camera
Secara umum, camera CCTV menggunakan salah satu dari 3 (tiga) jenis power supply berikut ini, yaitu:
1. Tegangan 220VAC.
2. Tegangan 24V AC.
3. Tegangan 12V DC.

 Camera 220VAC

Camera 220VAC umumnya memiliki ukuran besar, karena power supply-nya diletakkan di bagian dalam. Sebelum ditemukan power supply dari jenis switching,  camera-camera tempo dulu pada umumnya berukuran raksasa, karena memakai transformer konvensional, sehingga memerlukan casing yang besar. Camera masa kinipun masih ada yang menggunakan sumber 220VAC, umumnya dari jenis standard camera. Camera jenis 220VAC ini terlihat lebih praktis, karena tidak memerlukan adaptor plug-in (tancap) yang notabene bisa mengganggu estetika ruangan, jika adaptor ini dipasang secara outbow. Adapun kekurangan camera tipe 220VAC ini adalah bentuknya yang besar dan hampir tidak ada yang berjenis dome. Selain itu, karena rangkaian power supply-nya berada di dalam, maka faktor panas perlu mendapat perhatian. Jadi, diperlukan rangkaian yang benar-benar efisien supaya panasnya tidak mengganggu komponen lain di dalam casing. Camera 220VAC masa kini biasanya menggunakan power supply dari jenis switching di bagian dalamnya.

 Camera AC tidak memerlukan analisa tentang bagaimana mendistribusikan powernya, sebab tegangan 220V bisa merambat pada kabel listrik dalam jarak yang cukup jauh tanpa khawatir drop. Bahkan dapat dikatakan, untuk camera jenis AC hampir tidak dijumpai isu mengenai drop tegangan pada kabel, kecuali isu sumber tegangan 220V-nya yang tidak stabil (naik-turun).

Selanjutnya, kelebihan yang menonjol dari camera AC220V adalah:
- Praktis dan instalasinya tidak ribet.
- Tidak khawatir terjadi loss pada kabel powernya.

 Sedangkan kekurangannya antara lain:
-Bentuknya besar.
-Jarang ada yang berjenis dome.
-Faktor panas.
-Kerusakan pada bagian power supply akan mencopot semua unit, karena tidak memakai adaptor plug-in.
-Memerlukan lubang yang besar untuk memasukkan steker listrik ke dalam plafon.
-Resiko shock-hazard (kesetrum) lebih besar.

 Camera 24VAC

Tegangan 24VAC umumnya dipakai pada camera Speed Dome dan beberapa tipe camera standard lainnya. Dibandingkan dengan 220V, tegangan 24VAC ini sebenarnya tidak menyengat (nyetrum), sehingga resiko kena strum relatif tidak membahayakan. Namun, camera jenis ini memerlukan transformer (trafo) 24VAC yang bentuknyapun lumayan besar seperti terlihat pada gambar di bawah (kiri). Sebenarnya trafo ini hanyalah step-down dari 220VAC menjadi 24VAC saja, sehingga tidak memerlukan rangkaian elektronik lagi. Dengan demikian, trafo 24V/5A biasa yang banyak ditemukan di pasaran lokalpun dapat dipakai untuk menyuplai camera branded.

Adapun kekurangan jenis Camera 24VAC ini adalah:
- Trafo yang terpisah menimbulkan persoalan dalam penempatannya.
- Tegangan 24VAC tidak bisa satu kabel dengan data RS-485.
- Tegangan output trafo 24VAC dipengaruhi oleh bagus-tidaknya tegangan listrik 220V.
- Trafo yang panas menyebabkan tegangan dan supply arus dari trafo menjadi berkurang.
- Trafo lokal yang kurang baik biasanya bergetar.

 Sedangkan kelebihannya adalah:
- Drop tegangan pada kabel masih terbilang kecil, sehingga bisa di-supply dari jarak jauh.
- Resiko shock hazard hampir tidak ada.
- Tidak memerlukan rangkaian power supply yang rumit.

 Camera 12VDC

Inilah topik bahasan kita nanti. Camera masa kini umumnya memakai tegangan 12VDC, sehingga ukurannya lebih kompak alias kecil. Selain itu, faktor panas tidak menjadi isu penting lagi, karena power supply-nya sendiri berada di luar. Namun, manakala sumber listrik dan camera terpisah pada jarak yang berjauhan, maka drop tegangan menjadi isu penting. Oleh sebab itu, perlu diupayakan bagaimana agar power 12VDC ini tetap terjaga dan dapat didistribusikan secara merata. Untuk itulah penenmpatan power distribution menjadi hal penting.

Keuntungan camera jenis 12VDC:
- Harga camera umumnya lebih ekonomis.
- Ukuran camera menjadi lebih ringkas (kecil).
- Harga adaptor 12V dari jenis plug-in non-switching umumnya murah.
- Tidak ada resiko shock-hazard.
- Kerusakan power supply tidak mencopot camera, tinggal mengganti adaptornya saja.
- Tidak ada isu soal panas.
- Adaptor dari jenis regulated tetap stabil pada beban dan tegangan listrik 220V yang naik-turun.

Kerugiannya :
- Loss tegangan pada kabel sangat signifikan.
- Tegangan output adaptor plug-in sangat pas-pasan (kadang terukur 11.9 VDC).
- Jika dipusatkan, maka setiap satu camera memerlukan satu adaptor, sehingga perlu colokan listrik (stop kontak) yang berlubang banyak.
- Kabel adaptor suka keleweran di belakang camera (merusak estetika).

Problematika Utama
1
. Drop Voltage (Drop Tegangan). Resiko inilah yang paling sering terjadi, terutama jika kabel untuk power-nya menggunakan kabel tunggal berdiameter kecil (kabel telepon 2 x 0.5mm). Bahkan, untuk kabel telepon yang dekat sekalipun (katakanlah 5m), tegangan pada camera bisa drop secara signifikan. Untuk menguji kualitas tegangan di ujung camera, kita bisa menggunakan tester ST-BT01Q.
2. Poor Video Quality. Akibat power camera yang kurang, maka kualitas gambar yang dihasilkanpun cenderung terganggu. Gambar yang tidak steady, bergaris-garis dan kusam merupakan ciri khas dari camera yang menderita kekurangan tegangan.
3. Interference. Gangguan inipun bisa disebabkan oleh drop tegangan, sehingga mengakibatkan sinyal output camera menjadi lemah (di bawah 1 Vpp). Interferensi ini disebabkan oleh jeleknya angka signal to noise (S/N ratio), yaitu  perbandingan antara sinyal output camera dengan noise yang muncul di sepanjang kabel video (kabel coaxial). Semakin besar nilai S/N, maka kualitas gambar akan semakin baik. Oleh sebab itu sinyal output camera yang kuat menjadi satu keharusan, karena ia akan mengalahkan noise (interferensi).
4. Need More Space. Adaptor plug-in yang berjajar seperti ini dinilai tidak praktis, karena memerlukan spasi ekstra untuk menempatkan stop kontak berlubang banyak.
5. Need More Times (and wires,too!). Kabel power yang ditarik berdampingan dengan kabel coaxial seperti ini memerlukan waktu instalasi cukup lama dan jumlah kabel yang banyak pula.

 Saran

Jika tidak ada cara lain selain memakai cara ini, maka alternatif solusinya adalah:
1. Gunakanlah kabel berdiameter besar untuk power, misalnya kabel listrik jenis NYMHY 2x0.75mm yang berbentuk pipih atau sejenisnya.
2. Gunakanlah adaptor yang unregulated (walaupun jarang ada di pasaran). Adaptor tipe ini memiliki tegangan output 16VDC - 18VDC (tanpa beban), sehingga saat sampai di ujung camera, tegangannya masih di atas 12VDC.
3. Boleh juga menggunakan variable power supply, yaitu power supply yang tegangan outputnya bisa diatur melalui putaran potensiometer.

Cara yang lebih "cerdas" adalah menempatkan adaptor plug-in di dekat camera tanpa melalui kabel penyambung. Keuntungan yang bisa diperoleh melalui cara ini, diantaranya:

1. Tidak ada drop tegangan dan sinyal video menjadi lebih sempurna.
2. Sumber listrik 220V bisa diambil dari mana saja, sehingga instalasi kabel coaxial lebih rapi.
3. Noise dan interferensi bisa diminimalisir.

Namun dalam implementasi di lapangan, cara ini memerlukan pengerjaan yang cukup detail dan "memakan biaya". Supaya dudukannya kokoh, maka adaptor plug-in memerlukan stop kontak outbow yang (sebaiknya) ditempatkan di dalam box plastik atau metal. Selain itu, pemasangan box adaptor di dalam plafon memerlukan pekerjaan melubangi plafon. Jelas hal ini sedikit memakan waktu. Kabel adaptorpun perlu dilindungi oleh flexible plastic conduit agar tidak dimakan tikus.

Cara lain yang cukup bagus adalah menempatkan box power supply sedekat mungkin dengan camera. Untuk itu kita bisa menggunakan unit Power Distributor dan satu buah Adaptor Switching 12V/4A untuk menggantikan 4 unit adaptor plug in. Dengan cara ini instalasi menjadi lebih kompak dan tampak (sedikit) profesional. Faktor yang harus dimasukkan ke dalam pertimbangan adalah:
1. Gunakan kabel power yang berkualitas baik (misalnya NYMHY 2x0.75mm yang pipih).
2. Gunakan cable shoes untuk sambungan kabel pada terminal Power Distributor.
3. Tempatkanlah box pada lokasi aman, tapi mudah dijangkau saat melakukan maintenance.
4. Memasang lampu indikator atau Volt-Ampere meter pada box merupakan ide yang baik (walau sedikit costly!)

Pemilihan adaptor switching disebabkan bentuknya lebih kecil daripada power supply biasa dengan kemampuan arus yang sama. Lebih jauh lagi, adaptor switching memiliki efisiensi yang baik, sehingga bisa dioperasikan terus menerus dalam waktu lama. 

Menggunakan power supply yang handal merupakan tuntutan bagi instalasi CCTV yang profesional. Seperti yang tampak pada ilustrasi sederhana di atas, kami lebih memilih power supply dari jenis switching ketimbang analog (linear). Alasannya sederhana, yaitu faktor efisiensi. Camera CCTV pada umumnya dioperasikan 24 jam non-stop, sehingga memerlukan power supply yang konstan dan relatif "dingin". Power supply switching bisa menjawab persoalan ini, karena bekerjanya sangat efisien. Pabrikan terkemuka telah  mengeluarkan banyak variasi power supply untuk camera, baik tipe switching maupun linear (analog) dengan tegangan output 12VDC ataupun 24VAC.

Sekali lagi -apapun jenisnya- penempatan power supply menjadi hal penting dalam desain CCTV, karena ini menyangkut "mati-hidupnya" camera. Kebutuhan arus total camera perlu dimasukkan dalam perhitungan. Umumnya satu camera 12VDC hanya memerlukan arus yang kurang dari 500mA saja, sehingga secara teoritis adaptor plug in 1000mA (1A) sudah memadai. Persoalan yang kerap muncul di lapangan adalah drop tegangan. Ini disebabkan oleh kabel DC yang terlalu panjang, bukan dari ampere adaptor yang kurang.

 Untuk diagram 4 camera dome di atas, maka power supply 12VDC berkapasitas 2A (2000mA) sudah memadai, karena kebutuhan arus camera tidak lebih dari 500mA (tepatnya sekitar 320mA). Tentu saja diagram di atas termasuk sederhana. Untuk desain yang kompleks, beberapa power supply kecil untuk setiap 4 camera lebih disukai ketimbang satu power supply besar yang meng-handle 16 camera sekaligus. Alasannya adalah: saat terjadi trouble pada power supply, kita masih memiliki beberapa camera yang hidup. Berbeda jika kita menggunakan satu unit power supply besar, maka trouble power supply menyebabkan semua camera menjadi lumpuh.

 Beberapa vendor yang "kreatif" adakalanya merakit power supply sendiri demi  menekan tingginya cost (walau sejujurnya kami sendiri tidak meyakini signifikansinya!). Dalam hal rakit-merakit ini setidaknya ada 2 (dua) faktor yang perlu diperhatikan, yaitu: kualitas komponen dan keserasian layout. Kualitas komponen elektronik di pasaran lokal umumnya tidak setara dengan komponen pabrik (kecuali jika kita merogoh kocek lebih dalam untuk mendapatkan komponen yang high grade!). Jadi, kehandalan (durability) power supply rakitan lokal umumnya masih di bawah buatan pabrik, sekalipun sang perakit mengklaim sebaliknya. Jika diadakan perbandingan harga, maka selisihnya tidak signifikan. 

Faktor kedua adalah soal keserasian layout komponen, terminal dan PCB di dalam box. Jika kita perhatikan gambar power supply buatan pabrik di atas, maka kita dapati satu layout yang bagus dan sedap dipandang mata. Hal ini jarang dijumpai pada power supply rakitan lokal, kecuali pada UPS lokal merk ternama.

Namun, jika kita ingin memakai power supply rakitan, hendaklah dihitung dulu dengan cermat apa plus minusnya. Kendati di atas kertas tampak "lebih murah", tetapi jika harga accessories dimasukkan, maka power supply rakitan malah bisa jadi lebih mahal ketimbang yang sudah jadi. Belum lagi harga box panel dan waktu untuk mengerjakannya.

Pada bahasan mendatang, kami akan mengangkat topik (menarik): perlukah power supply backup pada saat listrik mati? Lalu, sampai seberapa baguskah performance UPS dalam hal ini? Bagaimana pula management yang baik saat terjadi power failure?