Dalam dunia CCTV, IP Cam merupakan termasuk jenis kamera biasa. Hanya saja, sinyal video yang disalurkan melalui satu protocol yang disebut dengan TCP atau IP. TCP (Transfer Control Protocol) atau IP (Internet Protocol) merupakan sekelompok protocol yang tugasnya mengatur komunikasi data dalam proses tukar menukar data dari satu computer ke computer lain, dan memastikan pengiriman data sampai pada alamat yang dituju melalui internet.

Yang membuat IP Cam  sangat populer dikalangan user CCTV adalah metode transfer videonya yang menggunakan protocol TCP atau IP, yang artinya IP Cam menyalurkan sinyal data. Ini adalah perbedaan mendasar anatar IP Cam dengan kamera biasa yang menyalurkan komponen video secara langsung, tanpa melalui satu protocol apapun. IP Cam sangat kental dengan teknologi jaringan (LAN), jadi sebaikanya saat hendak memasang IP Cam setidaknya menguasai ilmu dasar bidang teknologi jaringan.

Produsen IP Cam biasanya sudah menyertakan adaptor jenis switching dalam setiap paketnya, namun adapula IP Cam yang menggunakan power supply jenis PoE (Pi-o-i). PoE atau Power Over Ethernet merupakan penyaluran daya. Menyalurkan tegangan DC dari Network Switch ke dalam kabel UTP Cat 5, sehingga kamera mendapatkan power dari kabel tersebut. Itu sebabnya disebut power over Ethernet. Dengan demikian instalasi akan terlihat lebih rapi karena cukup dengan satu kabel UTP yang terhubung pada kamera, dan dipastikan kamera sudah dapat diaktifkan. Sampai disini, ini merupakan keunggulan pertama yang ada pada IP Cam, sangat jauh jika disbanding dengan kamera Analog biasa. Ini adalah contoh Network Switch yang sudah dilengkapi dengan PoE:

Sebenarnya ada cara lain untuk menciptakan IP Cam sendiri, dengan cara mengupgrade kamera biasa menjadi IP Cam. Pertama, tentu saja dapat menggunakan kamera CCTV biasa, kemudian dihubungkan pada alat yang disebut dengan NVS atau Network Video Server sehingga sinyal videonya berubah menjadi IP Video. Ini merupakan metode yang jarang bahkan hanya sebagian kecil saja yang menempuh metode ini, salah satu keunggulan dari metode ini adalah user dapat dengan bebas memilih model dan kualitas kamera CCTV yang akan di upgrade menjadi IP Cam dengan menggunakan NVS. Meskipun IP Cam begitu ternama namun tak sedikit juga yang lebih menyukai kamera biasa jenis Analog.

Jika Anda berminat mengupgrade instalasi CCTV Analog Anda menjadi IP Cam, sebaiknya di pikirkan dengan matang terlebih dahulu karena harga 1 unit NVS terbilang cukup mahal.

Jadi bisa disimpulkan bahwa IP Cam adalah kamera yang bisa di browsing secara langsung, Oleh karena beberapa camera harus terhubung ke dalam satu jaringan LAN (Local Area Network), maka IP Cam bisa juga disebut juga sebagai Network Camera atau IP-Surveillance. Namun saat inipun kamera jenis Analog sudah dapat diakses pula melalui jaringan internet yang biasa disebut dengan system cloud.

Sedikit informasi mengenai PoE untuk IP Cam, salah satu kelebihan IP Cam, adalah kemampuannya dalam menampilkan resolusi tinggi sehingga dalam beberapa kasus posisinya dapat menggeser kedudukan Kamera CCTV Analog yang telah dilengkapi dengan lensa zoom. Selain itu, instalasi kabelnya lebih sederhana. Kamera analog terkadang memerlukan beberapa tarikan kabel untuk menyalurkan video, power dan data. Sedangkan untuk fungsi yang sama, IP cam hanya memerlukan seutas kabel UTP saja. Oleh karena kepraktisannya inilah, maka camera  jenis ini makin dilirik banyak orang. Bagaimana dengan anda?

Pada instalasi IP Cam hanya memerlukan kabel UTP untuk dapat menghubungkannya, cara yang sangat praktis ketimbang instalasi jenis kamera analog yang terkadang membutuhkan dua tarikan kabel untuk tambahan power. Hal itu disebabkan kita boleh memilih salah satu dari dua cara menyalurkan power pada IP Cam yang kami ketahui sejauh ini. Sebelum memutuskan cara mana yang akan dipakai, faktor yang perlu diketahui adalah apakah spec. IP cam kita mendukung apa yang disebut dengan "802.3af compliant" ataukah tidak. Jika tidak, maka tidak perlu khawatir, sebab kita bisa memakai alat yang disebut Power Injector dan.

Hasilnya jika dilihat dari segi penggunaan kabel, IP Cam jauh lebih praktis, ringkas dan rapi jika dibandingkan dengan kamera Analog. Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah mengenai tegangan listrik. Secara umum, kapasitas daya (watt) pada kebanyakan PoE sudah lebih dari mencukupi untuk dibebani IP cam. Kalaupun sampai terjadi overload, maka yang terjadi hanyalah power yang tidak keluar saja, tanpa menyebabkan camera ataupun PoE menjadi rusak. Selain itu, khusus pada PoE Splitter, di sana ada pilihan tegangan 5V-9V-12V untuk IP cam kita. Seperti mafhum diketahui, tidak semua IP Cam bekerja pada 12V, sehingga dengan adanya pilihan ini kita bisa leluasa dalam memilih produk.

Sekalipun saat ini IP Cam sudah semakin populer, namun secara umum jumlah pemasangannya masih relatif sedikit ketimbang camera analog biasa.

Faktor apa saja yang patut dipertimbangkan dalam pemasangan IP Cam, terutama jika jumlah cameranya cukup banyak?

  • Jarak, Faktor ini kami tempatkan pada point pertama, karena akan berkaitan dengan penarikan kabel antara camera dengan network switch. Dalam banyak literatur disebutkan, bahwa jarak maksimum IP camera adalah 100 meter, sama dengan perangkat IP lainnya. Oleh karenanya, jika jarak camera kita kurang dari itu, maka tidak ada masalah. Namun, jika ada titik camera yang melebihi jarak itu, maka kita memerlukan apa yang disebut dengan IP extender.
  • Jumlah Camera, Faktor kedua adalah jumlah camera. Jika kita hanya memasang satu atau dua camera saja, maka dalam banyak hal, camera tersebut bisa diikutkan langsung ke network switch yang sudah ada, baik di kantor maupun rumah. Seperti diketahui, umumnya network switch memiliki spesifikasi 100 Mbps, sementara IP camera rata-rata memakan 0.2 hingga 2 Mbps. Jadi, beberapa IP camera masih bisa "diangkut" dengan aman melalui infrastruktur jaringan yang ada. Namun, bagaimanakah jika IP camera yang akan dipasang jumlahnya banyak? Untuk itu disarankan agar kita membuat jaringan sendiri, terpisah dari jaringan yang ada. Artinya, membeli lagi network switch yang baru untuk keperluan IP camera. Ini tak ubahnya bagaikan jalur kereta api. Jika satu jalur sudah padat, maka kita tinggal membuat lagi jalur baru, demikian seterusnya. Pada aplikasi perkantoran atau perusahaan, mungkin kita memerlukan apa yang disebut dengan Gigabit Ethernet, yaitu network switch berkecepatan 1000 Mbps (10 kali lipat dari yang biasa). Kabar baiknya adalah harga perangkat ini relatif murah.
  • Power, Salah satu kelebihan lain dari IP camera adalah kesederhanaan instalasi. Cukup bentangkan seutas kabel UTP, crimping kedua ujungnya dengan connector RJ-45, beres! Soal power kita tidak perlu repot, karena ada dua teknik yang bisa dipakai. Silakan buka kembali uraian kami seputar PoE di sini.
  • Live View, Kebanyakan pengguna camera CCTV menginginkan tampilan yang benar-benar real, tanpa patah-patah. Ini bukan persoalan bagi camera analog, tetapi bisa menjadi prahara bagi IP cam. Biang keladi dari semua masalah pada IP cam adalah soal bandwidth. Tapi, sekali kita mengerti duduk persoalannya dan bisa pula menyiasatinya, maka instalasi IP camera benar-benar merupakan pekerjaan yang menyenangkan.
  • Recording, Seperti diketahui, perekaman pada camera analog dilakukan oleh DVR (digital video recorder), sedangkan pada IP camera dilakukan oleh apa yang disebut dengan NVR (network video recorder). NVR ini ada yang berupa perangkat keras mirip dengan DVR, ada pula yang "hanya" berupa program (software). Perbedaan antara keduanya berkaitan dengan dimanakah hard disk disimpan. Pada NVR tipe perangkat keras, hard disk disimpan di dalam unit itu sendiri. Sedangkan pada NVR yang berupa software, tentu saja hard disk-nya dipasang  di dalam komputer (PC).

 

Komentar kami, apapun bentuk NVR-nya, isu yang pertama muncul adalah soal berapa lama rekaman bisa dilakukan pada hard disk sekian GB. Untuk itu pastikanlah, bahwa kita sudah mempertimbangkan semua faktor di atas ditambah dengan hitungan kasar mengenai:

  1. Jumlah camera yang akan direkam
  2. Pada berapa fps rekaman itu akan dilakukan
  3. Berapa resolusi rekaman yang akan dipakai
  4. Kompresi apa yang dipakai (MPEG4, MJPEG atau H.264)
  5. Berapa harikah rekaman akan dilakukan?
  6. Berapa jam dalam sehari rekaman itu dilakukan?

 

Demikian informasi yang kami sampaikan, semoga bermanfaat!